

Zakat adalah kewajiban bagi setiap muslim. Bukan hanya zakat fitrah, zakat maal juga wajib untuk diketahui.
Salah satu harta yang wajib dizakati adalah Simpanan Berjangka (Deposito).
Simpanan Berjangka (Deposito), ada dua sistem penghitungan:
Untuk deposito jenis ini, zakat hanya terkena pada uang pokoknya saja. Sedangkan bunganya, baik diambil atau tidak, tidak terkena zakat. Nilai zakatnya adalah: 2,5 persen dari pokok.
Untuk deposito jenis ini, sistem perhitungan berdasarkan pada saldo akhir atau memasukkan bagi hasil yang diterima yang masih ada hingga akhir tahun. Lembaga Keuangan Syariah tidak memakai sistem bunga, melainkan bagi hasil. Saat ingin dizakati, maka kadarnya sebesar 2,5% dari pokok dan bagi hasil.
Perhitungan Lembaga Keuangan Syariah Konvensional
Modal: Rp100 juta.
Bunga tidak dihitung zakat
Zakatnya adalah 2,5 persen xRp100juta : Rp2.500.000
Perhitungan Lembaga Keuangan Syariah Syariah
Modal: Rp100 juta.
Bagi Hasil: Rp10 juta.
Zakatnya adalah: 2,5 persen x Rp110 juta = Rp2.750.000
Kemudian, terkait dengan waktu berzakat dilakukan setelah genap satu tahun dari masa mencapai nisab 85 gram emas. Terkait dengan pencapaian nishab sendiri, apabila memiliki harta lain seperti : emas, perak, tabungan, barang perniagaan dan sejenisnya, maka semua dihitung secara keseluruhan dan tidak terpisah.
Jika akumulasi harta lain sudah mencapai 85 gram emas dan genap satu tahun dari masa itu maka dikeluarkan zakatnya 2,5 persen. Untuk masa berikutnya, zakat dikeluarkan setiap tahun. Jadi, tidak setiap cair atau menunggu cair. Apabila telah genap satu tahun maka wajib dikeluarkan zakatnya.